ditulis oleh Khaerunnisa | Relawan Pelita
Sebagai bentuk respon dari Persiapan Wallacea Biennale 2025 Pangkep yang bertemakan “Suara-Suara Pesisir”, komunitas Pelita Pangkep berkolaborasi dengan Rumah Saraung, Sikkodasere Pustaka, Sedekah Terus Project dan Kunacorp menyelenggarakan kegiatan literasi “Pelita Mendengar Suara Pesisir” di SDN 38 Buttue, Desa Kanaungan, Kabupaten Pangkep. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 30 Agustus 2025 ini bertujuan untuk mendekatkan akses literasi serta memberikan motivasi kepada anak-anak pesisir dalam memperjuangkan pendidikan mereka di tengah keterbatasan.

Kegiatan ini diikuti oleh 24 murid dari kelas 1-6 dengan pendampingan dari 24 relawan komunitas. Perjalanan menuju Desa Buttue memberikan pengalaman tersendiri bagi para pendamping sebab untuk mencapai lokasi, mereka harus melewati jalur dengan akses terbatas, ada dua jembatan kecil dari batang kelapa yang hanya dapat dilalui dengan sepeda motor. Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata tantangan sehari-hari yang dihadapi masyarakat pesisir.
Setelah tiba di lokasi, kegiatan dimulai dengan perkenalan, membaca buku bersama serta sesi bercerita tentang isi bacaan yang bertujuan untuk melatih pemahaman siswa sekaligus membangun rasa percaya diri. Suasana semakin interaktif melalui permainan edukatif seperti tebak gerakan, menyusun puzzle dan menyusun kalimat.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film pendek berjudul “Muara Cita-Cita” yang menyoroti kehidupan Kampung Buttue. Sesi ini menjadi pengantar bagi penyampaian motivasi oleh Kariandi, salah seorang relawan pendamping yang berasal dari wilayah kepulauan terluar Pangkep. Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan pengalaman pribadinya menempuh pendidikan di daratan serta menjelaskan bagaimana pendidikan dapat meningkatkan taraf hidup keluarga. Kisah ini memberikan wawasan baru bagi para siswa, sekaligus menumbuhkan keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan menuju masa depan yang lebih baik. Anak-anak pun diajak menyampaikan cita-cita mereka, sementara para pendamping memberikan semangat agar mereka terus berjuang. Acara kemudian ditutup dengan Pembagian Donasi ATK & buku bacaan dari Sedekah Terus Project serta pemberian hadiah kuis dari Sikkodasere Pustaka.

Salah satu momen paling menyentuh dari kegiatan ini adalah ketika para relawan pendamping menyaksikan perjuangan anak-anak pesisir untuk bersekolah. Setiap hari, mereka harus menyusuri sungai dengan menggunakan perahu kecil agar dapat belajar. Pemandangan tersebut menjadi pengingat betapa kerasnya perjuangan mereka dalam memperjuangkan hak atas pendidikan. Meski dengan perahu kecil, anak-anak ini membawa harapan yang besar—harapan akan masa depan yang lebih cerah melalui pendidikan. Suara-suara dari pesisir inilah yang sepatutnya didengar dan diperhatikan, sebagai bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh anak bangsa.


Tinggalkan Balasan